Pendaftaran Guru Sekolah

Pendaftaran Guru Sekolah

Informasi Syara dll…..

Silahkan Isi Formulir Berikut ini


Strategi Kemendikbud Bantu Masyarakat Lakukan Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi

Strategi Kemendikbud Bantu Masyarakat Lakukan Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi

Menyadari adanya disrupsi yang luar biasa pada bidang pendidikan sebagai akibat Covid-19, Pusat Penelitian dan Kebijakan (Puslitjak), Badan Penelitian Pengembangan, dan Perbukuan (Balitbang dan Perbukuan), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), meyakini perlunya masyarakat beradaptasi lebih cepat untuk menyesuaikan proses pembelajaran.

“Situasi ini memaksa kita berupaya lebih cepat mengoptimalisasi cara-cara baru, termasuk (memanfaatkan) teknologi digital,” ucap Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala Balitbang dan Perbukuan, Kemendikbud, Totok Suprayitno ketika menyampaikan sambutan pada Diskusi Tematik “Implementasi Modul Pembelajaran Literasi dan Numerasi Kurikulum Darurat” secara virtual di Jakarta, Selasa (10/11).

Penyederhanaan kurikulum dengan memprioritaskan pengajaran materi esensial dilakukan sebagai upaya untuk memfasilitasi guru ketika mengajar di masa pandemi. Selain itu, menurut Totok pihaknya selalu terbuka menerima masukan perbaikan agar Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) dapat berjalan semakin baik. “Untuk Belajar Dari Rumah (BDR) juga kita terbitkan modul-modul untuk siswa, guru, dan orang tua untuk semua jenjang. Apalagi, jenjang dasar ternyata paling sulit belajar dari rumah,” tutur Totok.

Peneliti Madya Puslitjak Balitbang dan Perbukuan, Kemendikbud, Meni Handayani menyebut, para guru juga menilai positif dengan adanya modul-modul dari Kemendikbud. Tapi angka ini cenderung turun di daerah tertinggal. “Sebanyak 65% pengguna kurikulum darurat mengetahui modul belajar literasi dan numerasi. Namun, sebagian besar guru di daerah tertinggal masih terkendala mengakses modul,” kata Meni.

Menyikapi temuan tersebut, Meni mengatakan perlunya menggiatkan sosialisasi kurikulum dan modul belajar di daerah tertinggal dengan melibatkan organsiasi lokal seperti LSM, mitra pembangunan, media lokal, dan kampus. Selain itu, penyaluran modul agar sampai ke guru-guru juga harus makin intensif, bisa diberikan lewat dinas pendidikan dan kepala sekolah.

Pada kesempatan yang sama, Guru SDN 2 Malinau Barat, Birrul Asrori menyampaikan bahwa Modul Belajar Literasi dan Numerasi yang dikeluarkan Kemendikbud sangat tepat karena alokasi waktunya sesuai dengan aturan gugus tugas dan sesuai jam belajar masa pandemi, yaitu empat jam saja. “Kalau pakai buku Kurikulum 2013, itu untuk enam sampai tujuh jam belajar. Modulnya juga bisa dipakai sekaligus untuk BDR, jadi enak untuk digunakan,” ungkapnya.

Birrul juga mengapresiasi kurikulum darurat karena memberikan ruang gerak bagi guru. Di sisi lain, ia berharap para guru bisa mengadaptasi modul ini agar lebih menarik dan relevan bagi siswa dan orang tua.
“Karena yang wajib diajarkan hanya Kompetensi Dasar (KD) Esensial dan Prasyarat untuk naik ke kelas selanjutnya, kami jadi bisa fokus memilih KD mana yang akan kami perdalam,” ujar Birrul.

Geliat Pembelajaran di Zona Hijau

Pelaksana Tugas (Plt.) Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, Thomas Welinson menyatakan, dari 104 SD Negeri di Malinau, sebanyak 61 SD sudah Belajar Tatap Muka dan 42 SD mengombinasikan Belajar Tatap Muka (BTM) dan Belajar Dari Rumah (BDR). Sedangkan untuk SMP Negeri, dari 35 SMPN, 12 SMP Negeri sudah BTM dan 22 SMP Negeri mengombinasikan BTM dan BDR.

Berikutnya, Thomas menyampaikan sejumlah tantangan yang ia hadapi di lapangan yaitu letak geografis yang sulit. Terdapat lima kecamatan yang tidak ada jalan air maupun darat. Satu-satunya transportasi hanya pesawat kecil yang hanya bisa mengangkut 4-5 orang.

“Dari 15 kecamatan di Malinau, sebetulnya semua sudah terjangkau internet, tapi kadang tidak stabil. Dan untuk memakai internet masih perlu diesel, sehingga orang tua siswa iuran untuk membeli minyak untuk menyalakan diesel. Selain itu, latar pendidikan orang tua juga ada yang tak memadai untuk mengajar anaknya di rumah dan tidak semua orang tua punya gawai atau laptop,” terangnya.

Dalam upaya meningkatkan kualitas pembelajaran di masa pandemi, dikatakan Thomas telah diupayakan pihaknya dengan terus mensosialisasikan pilihan kurikulum darurat, sehingga beban guru dan orang tua lebih ringan. “Kami juga sudah ada kebijakan BTM kembali dengan pertimbangan Malinau berada pada Zona Hijau dan transmisi lokal di sini sangat rendah. Dasarnya adalah Surat Edaran Bupati No. 420/492/HUKUM dan No. 420/516/HUKUM.”

Thomas juga menekankan bahwa pihaknya terus berkoordinasi dengan Gugus Tugas dan instansi terkait seperti Dinas Kesehatan Malinau dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam melaksanakan BTM. “Kami menyusun POS dan Protokol Pola Hidup Sehat untuk Sektor Pendidikan. Pelaksanaan protokol ini juga kami kawal dan evaluasi terus secara berkala di setiap satuan pendidikan. Waktu di sekolah juga terbatas, maksimal empat jam dan untuk sekolah yang besar harus bergantian,” tegas Thomas.

Kolaborasi dan Praktik Baik Warga Pendidikan dalam PJJ

Head of Education Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Imelda Usnadibrata menemukan fakta bahwa 8 dari 10 anak mengatakan tidak bisa mengakses bahan belajar yang memadai. Sementara itu, 7 dari 10 orang tua dan 73% anak menyatakan (selama pandemi) mereka belajar jauh lebih sedikit.
“Ini lebih rendah dari angka global yaitu 83%. Selain itu, 1 dari 4 orang tua mengaku guru tidak memantau anaknya. Ini juga lebih rendah dari angka global 66%. Di sisi lain, secara global, harapan orang tua dan anak agar anak-anak kembali ke sekolah, justru semakin menurun,” ungkap Imelda.

Oleh karena itu, Yayasan Sayangi Tunas Cilik sebagai elemen organisasi masyarakat sipil yang peduli isu pendidikan, berinisiatif membantu pemerintah dalam hal mensukseskan PJJ. “Kami mencetak dan menyebarluaskan modul-modul yang sudah dibuat Kemendikbud. Kami buat Program Guru Kunjung di beberapa provinsi juga, jadi tiap guru bertanggungjawab terhadap 3 sampai 5 anak, dan berkunjung ke rumah anak. Tapi tentunya, ini harus dengan menjaga protokol kesehatan agar tidak menimbulkan kasus baru,” tutur Imelda.

Praktik baik lainnya adalah “Komitmen Jam Belajar” di Provinsi Sulawesi Tengah. “Kami bekerja sama dengan kepala desa, orang tua, tokoh masyarakat, dan para pemuda desa, untuk meyakinkan bahwa orang tua benar-benar berkomitmen mengajar anak di rumah dengan jam yang sudah disepakati. Kami juga coba guru mengajar lewat siaran radio di NTB dan NTT dan ini cukup efektif,” tambahnya.

Ahli Pembelajaran dari Tanoto Foundation, Muhammad Khundhori pada kesempatan ini juga mengemukakan beberapa praktik baik yang dilakukan pada Daerah Mitra “Program Pintar” Tanoto Foundation. Berdasarkan pengalaman, dukungan orang tua adalah kunci keberhasilan dalam PJJ.

Menurutnya, di Bontang, Kalimantan Timur, ada program penyuluhan yang dilakukan agar orang tua bisa mendampingi anak belajar di rumah. Di SMPN 4 Bengkalis, Riau misalnya, karena ada fasilitas jaringan internet (wifi) maka balai desa digunakan sebagai tempat belajar anak-anak. “Alhamdulillah, belajar jadi lancar. Tentunya mereka memperhatikan protokol kesehatan juga. Ini sampai masuk Harian Kompas,” demikian jelas Khundhori.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Mengucapkan Selamat Hari Pahlawan Tahun 2020

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Mengucapkan Selamat Hari Pahlawan Tahun 2020

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengucapkan selamat Hari Pahlawan Tahun 2020. Hal tersebut diutarakan Direktur Jenderal Pendidikan Vokasi, Wikan Sakarinto, saat menjadi pembina upacara memperingati Hari Pahlawan Tahun 2020, di halaman kantor Kemendikbud, Senayan, Jakarta, Selasa (10/11).

“Hari pahlawan kiranya tidak hanya sekadar diingat pada setiap tanggal 10 November saja, namun lebih dari itu perjuangan dan pengorbanan para pahlawan yang telah mempertaruhkan nyawanya untuk mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia perlu terus dikenang oleh kita semua. Selamat Hari Pahlawan Tahun 2020,” demikian disampaikan Wikan saat membacakan Sambutan Menteri Sosial (Mensos) Republik Indonesia, Juliari P. Batubara.

Tahun ini, peringatan Hari Pahlawan 2020 mengangkat tema “Pahlawanku Sepanjang Masa”. Tema tersebut menurut Wikan, menjadi pendorong dalam menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap perjuangan para pahlawan. ”Suatu negara hancur, jika generasi muda dijauhkan dari sejarah bangsanya. Semakin kita tahu perjuangan para pahlawan dalam memperebutkan kemerdekaan, maka akan semakin cinta kita dengan negara ini,” ujarnya.

Semangat kepahlawanan yang terus menyala, kata Wikan saat melanjutkan membaca sambutan Mensos RI, dapat dijadikan sebagai motor penggerak dalam upaya mengisi kemerdekaan untuk mewujudkan cita-cita para pendiri negeri. Apabila setiap anak bangsa Indonesia tertanam semangat dan nilai-nilai kepahlawanan yang terdiri dari percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, rela berkorban, pantang menyerah, suka membantu, bergotong royong, maka berbagai permasalahan bangsa akan dapat diselesaikan dengan baik.

“Mari tunjukkan kontribusi kita kepada bangsa dan negeri dengan mejadi pahlawan masa kini yang memiliki empati untuk menolong sesama, saling menghargai, dan menghormati satu sama lain,” pesan Mensos RI, saat dibacakan oleh Wikan.

Pelaksanaan upacara bendera memperingati Hari Pahlawan Tahun 2020, dilaksanakan secara tatap muka dan virtual. Secara tatap muka, pelaksanaan upacara dilakukan khidmat di halaman kantor Kemendikbud yang dihadiri oleh perwakilan pejabat dan pegawai, dengan penerapan protokol kesehatan yang ketat, dan dilakukan rapid test sebelum upacara dimulai.

Strategi Kemendikbud Bantu Masyarakat Lakukan Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi

Strategi Kemendikbud Bantu Masyarakat Lakukan Pembelajaran Jarak Jauh di Masa Pandemi

Dalam kunjungan kerja ke Bali, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim menemukan semangat para pegiat budaya masih melaksanakan aktivitas budayanya di tengah pandemi Covid-19. Mereka masih bisa melakukan berbagai macam acara virtual kebudayaan serta pengenalan budaya kepada anak-anak dan masyarakat.

“Saya melihat dedikasi masyarakat untuk menjaga kelestarian ini, bagi saya sangat luar biasa. Walaupun di tengah krisis, mereka masih melaksanakan aktivitas seninya, masih menjaga fasilitas, dan terus menjaga aset budaya Indonesia,” ujar Mendikbud di Museum Arkeologi Gedong Arca, Kabupaten Gianyar, Bali, pada Senin (9/11/2020).

Menurut Mendikbud, keanekaragaman budaya yang dimiliki Indonesia merupakan kekuatan yang mampu membangkitkan perekonomian pascapandemi melalui pariwisata. Mendatang, akan banyak wisatawan asing yang datang berkunjung karena ingin mengenal dan mendalami keunikan budaya Indonesia seperti yang ada di Bali.

“Di masa depan, ada dua hal yang akan langka yaitu alam dan adat budaya. Dua hal ini yang akan tidak banyak di miliki negara lain di dunia dan Indonesia itu memiliki banyak sekali kekayaan budaya,” katanya.

Namun, Mendikbud mengingatkan kembali pentingnya melibatkan masyarakat, khususnya generasi muda untuk peduli dan turut melestarikan kekayaan budaya. Jika bangsa Indonesia tidak lagi mengetahui dan menghormati budayanya, baik itu cagar budaya ataupun karya-karya seni dan pengetahuan tradisional, maka bukan mustahil keragaman budaya ini akan hilang.

Menurut Nadiem, budaya inilah yang menjadikan Indonesia unik di mata internasional dan membuat orang datang berkunjung. “Budaya ini merupakan salah satu potensi terbesar di Indonesia,” tuturnya.

Oleh karenanya, Mendikbud berharap, kegiatan kebudayaan harus terus dikembangkan meski di tengah pandemi Covid-19. Selain itu, ia juga berkeinginan ada revitalisasi strategi kebudayaan agar berbagai cagar budaya adat dikenal masyarakat hingga ke mancanegara.
“Pada saat budaya dan adat kita mulai terkenal di internasional, anak-anak kita pun pasti akan mengikuti tren itu dan akan diapresiasi oleh orang di luar negeri. Ini akan menjadi suatu kebanggaan bagi generasi Indonesia berikutnya,” ucapnya bangga.

Didampingi Franka Makarim dan Kepala Lembaga Penjaminan Mutu Pendidik (LPMP) Provinsi Bali, I Made Alit Dwitama; Mendikbud meninjau pelaksanaan pembelajaran di Taman Kanak-kanak (TK) Lingkungan Puri Damai. Setelah itu kunjungan berlanjut ke Agung Rai Museum of Art dan Museum Arkeologi Gedong Arca. Menutup kunjungannya, Mendikbud menyambangi rumah dinas Gubernur Bali untuk bersilaturahmi dengan Gubernur Bali, I Wayan Koster.

Kemendikbud Selenggarakan Gebyar Gema Pertiwi Pelajar Pancasila Sekolah Dasar Tahun 2020

Kemendikbud Selenggarakan Gebyar Gema Pertiwi Pelajar Pancasila Sekolah Dasar Tahun 2020

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyelenggarakan Gebyar Gema Pertiwi Pelajar Pancasila Sekolah Dasar Tahun 2020. Gebyar tersebut dilakukan sebagai wujud komitmen Kemendikbud dalam penguatan pendidikan karakter bagi para peserta didik, dengan menghadirkan profil Pelajar Pancasila yang kreatif, mandiri, bernalar kritis, bergotong royong, beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, dan berkebinekaan global.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Nadiem Anwar Makarim mengatakan, demi terwujudnya sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan berkarakter, para peserta didik yang akan menjadi calon-calon pemimpin masa depan perlu dibekali dengan kompetensi dan karakter yang berakar pada falsafah dan ideologi bangsa.

“Semangat Merdeka Belajar yang diajarkan Ki Hajar Dewantara mendorong pembelajaran yang relevan dan bermakna yang berfokus pada kebutuhan siswa,” tuturnya saat memberikan sambutan secara virtual pada Selasa (10/11).

Mendatang Kemendikbud akan fokus pada pembelajaran berbasis project base yang akan melatih kemampuan siswa serta guru berpikir kritis, kreatif, dan mengasah kemampuan berkolaborasi. Kompetensi ini penting dimiliki setiap individu dalam menghadapi masa depan yang penuh ketidakpastian.

Mendikbud mengapresiasi kegiatan Gema Pertiwi Pelajar Pancasila tahun 2020 yang diinisiasi Direktorat Sekolah Dasar sebagai wadah mengasah kreativitas. “Melalui karya-karya kreatif yang memuat internalisasi nilai-nilai Pancasila, seluruh pihak yang terlibat dapat menghadirkan pembelajaran yang lebih bermakna, menyenangkan dan inovatif,” ucapnya.

Senada dengan itu, Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Kemendikbud turut memberikan apresiasi atas terselenggaranya acara ini. Jumeri berharap, kegiatan yang baru diadakan pertama kalinya ini dapat terus dilakukan setiap peringatan Hari Pahlawan, serta menjadi ruang inovasi dan kreativitas elemen sekolah yakni peserta didik, guru, dan orang tua.

“Melalui pembuatan karya video pendek dan cipta lagu yang memuat internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” urainya ketika membuka perhelatan secara resmi.

Pada kesempatan ini, hadir putra bungsu dari pahlawan nasional Jenderal Besar Soedirman, Teguh Soedirman dalam gelar wicara. “Saya mengajak anak-anakku sekalian, cucu, saya menyebut cucu karena usia saya saat ini adalah 71 tahun. Belajar dengan tekun sebagai salah satu cara mengikuti jejak pahlawan kita sehingga yang dicita-citakan oleh para pahlawan kita di jaman dahulu yaitu Indonesia yang aman, maju dan sejahtera dapat terwujud,” demikian pesannya.

Peran Tiga Pilar dalam Mensukseskan Internalisasi Nilai Pancasila

Peran tiga pilar pendidikan, kata Jumeri, yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan bagi siswa sekolah dasar sangatlah dibutuhkan. Dengan terbangunnya kerja sama antara guru, sekolah dan masyarakat, diharapkan dapat menumbuhkan ide atau gagasan inovasi dan kreativitas yang tepat di masa pandemi ini.

“Belajar memang tidaklah selalu mudah tapi inilah saatnya kita berinovasi dan kreativitas. Saatnya kita melakukan berbagai eksperimen, inilah saatnya kita memulai yang lebih baik di masa depan. Selamat kepada anak anak, guru orang tua dan segenap insan pendidikan yang telah mengikuti kegiatan ini,” tutur Jumeri pada acara yang berlangsung hybrid event (daring dan luring) dan disiarkan melalui Youtube Kemendikbud RI itu.

Direktur Sekolah Dasar, Kemendikbud, Sri Wahyuningsih dalam laporannya menyampaikan, penyelenggaraan Gebyar Gema Pertiwi merupakan apresiasi terhadap kreativitas dan inovasi peserta didik yang dilaksanakan sebagai salah satu upaya dalam rangka pembinaan peserta didik di masa pandemi Covid-19.

“Secara khusus, acara ini bertujuan untuk mendukung upaya terwujudnya pelajar Pancasila melalui proses internalisasi nilai-nilai Pancasila pada peserta didik sekolah dasar, serta meningkatkan literasi digital, literasi science, serta literasi budaya dan kekeluargaan melalui pembuatan video pendek dan menciptakan lagu yang memuat internalisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari,” ungkapnya.

Berdasarkan catatan, terdapat sebanyak 213 karya yang dikirimkan oleh kreator muda tingkat sekolah dasar dari seluruh Indonesia dengan rincian sebagai berikut. Pertama, pembagian subtema untuk kategori video pendek yaitu ragam budaya dan permainan tradisional nusantara (58 karya video), proses internalisasi Pancasila dalam pembelajaran (22 karya video), karakter peserta didik yang berkebhinekaan global (8 karya video), sifat kegotong-royongan pada peserta didik (13 karya video), serta bagaimana peserta didik menanamkan perilaku beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia (13 karya video), karya science technology engineering mathematics (STEM), inovasi dan kreativitas melalui penampilan project-based learning (21 karya video). Adapun subtema terakhir adalah olahraga yang merupakan bagian yang tidak kalah pentingnya dalam masa pandemi belajar dari rumah (19 karya video).

Kedua, pembagian subtema untuk kategori karya video klip cipta lagu yaitu klip lagu tema cinta tanah air (32 karya video), klip lagu tema lingkunganku yang bebas sampah (12 karya video), dan klip lagu dengan tema sehat badan dan cerdas pikiranku (15 karya video). Dari hasil seleksi, terpilih 26 nominasi karya video pendek, enam nominasi karya video klip cipta lagu serta tiga nominasi karya terfavorit.

Pada akhir acara, panitia menyempatkan untuk berinteraksi dengan salah satu pemenang karya video pendek dengan subtema “Internalisasi Nilai-nilai Pancasila”, Karin Nurhaliza Gasukma. Karin yang saat ini tercatat sebagai siswa Sekolah Dasar Islam Al-Hasanah, Ciledug, Tangerang menjadi salah satu dari empat nominator pada sub kategori yang sama. Sebagai penutup rangkaian acara Gebyar Gema Pertiwi, Karin yang menjadi perwakilan dari seluruh pemenang didaulat untuk menerima hadiah serta piagam penghargaan yang diserahkan langsung oleh Widyaprada Ahli Muda, Direktorat Sekolah Dasar Setiawan Witaradya. Adapun informasi daftar peraih penghargaan dapat dilihat pada situs Direktorat Pendidikan Dasar, Kemendikbud.